MAKNA SYIRIK

Syirik artinya menyekutukan Allah SWT dalam beribadah dengan salah satu diantara makhluk-Nya.

SEBAB-SEBAB SYIRIK

  1. Pengagungan, pemuliaan dan penghormatan yang berlebihan. Pengagungan dalam syari’at Islam ada 2 macam:
    • Pengagungan yang sampai batas-batas tertentu dibolehkan bahkan diwajibkan (thobi’i), seperti anak kepada ayahnya (QS 17/23-24), terhadap nabi dan rasul as (QS 4/64, 24/63, 49/2-3).
    • Pengagungan yang berlebihan dan sampai pada tingkat taqdis (pengkultusan) kepada siapapun adalah terlarang, walaupun terhadap nabi as (QS 3/144), malaikat (QS 43/19), jin (QS 37/158-159), ulama dan orang shalih (QS 71/21-23), benda-benda langit (QS 41/37).
  2. Bersandar kepada sesuatu yang dapat diketahui oleh panca indera saja dan meremehkan yang diluar panca indera (QS 2/55, 7/138, 20/87-88).
  3. Mengutamakan hawa nafsu (QS 31/21, 19/59, 28/50, 25/43, 3/14).
  4. Bersikap sombong (QS 43/51-52, 40/56, 2/258).
  5. Ridha pada para pimpinan yang menindas manusia dan tidak berhukum kepada hukum Allah SWT dan rasul-Nya (QS 5/44-47, 7/65-66, 7/73-76, 34/31-33).

BENTUK-BENTUK SYIRIK

Syirik dalam al-Qur’an dan as-Sunnah bukan hanya sujud kepada berhala saja, sujud kepada berhala merupakan salah satu dari bentuk-bentuk syirik yang sangat banyak bentuknya, diantaranya:

  1. Meyakini bahwa ada yang memiliki kekuatan atau dapat memberi manfaat dan madharat selain Allah SWT (QS 2/102).
  2. Mendekatkan diri dengan memuja kepada sesuatu dengan keyakinan bahwa dengan sesuatu itulah ia dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT (QS 39/3).
  3. Memohon pertolongan kepada orang mati, ruh, atau jin untuk memudahkan urusannya (QS 10/18, 72/6).
  4. Cinta (mahabbah) dan loyalitas (wala’) yang salah. Cinta dan loyalitas hanya boleh diarahkan kepada Allah SWT, Rasul SAW dan orang-orang yang beriman dan bertakwa dan tidak boleh diarahkan kepada: Orang-orang yang menentang agama Allah SWT (QS 58/22) dan orang-orang yang mengejek hukum-hukum Allah SWT (QS 5/57). Jika ia mencintai sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT atau karena lebih mencintai sesuatu sehingga ia berani melanggar hukum Allah maka ia telah syirik (QS 2/165, 9/24).
  5. Beranggapan bahwa aturan/hukum buatan manusia lebih baik dari hukum Allah SWT atau menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal (QS 9/31, 16/35, 42/21, 4/65).
  6. Sihir (QS 10/81). Dari Bujalah bin ‘Abdah berkata bahwa Umar ra telah mengirim surat kepada para gubernurnya untuk menghukum mati para tukang sihir.
  7. Perdukunan (QS 6/59, 27/65). Barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad. (HR Abu Daud)
  8. Bersumpah dengan selain Allah: “Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah syirik.” (HR Tirmidzi).
  9. Menggantungkan jimat yang isinya selain ayat al-Qur’an. Barangsiapa menggantungkan jimat (tamimah) maka ia telah syirik. (HR Ahmad); Jika berupa ayat al-Qur’an, maka ada yang membolehkan dan ada yang melarang.
  10. Mantera dan jampi-jampi. Sesungguhnya bermantera (ar-ruqa’), dan jimat (tama’im) dan pekasih/pelet (at-tiwalah) adalah syirik. (HR Ibnu Majah)
  11. Menyembelih untuk selain Allah. Bersabda nabi SAW: Ada seorang yang masuk naar karena lalat dan seorang lainnya yang masuk jannah karena lalat. Maka para sahabat ra bertanya: Bagaimana bisa begitu wahai Rasulullah? Maka jawab nabi SAW: Dua orang lelaki lewat pada suatu kaum yang memiliki berhala yang tidak boleh dilewati tanpa berkorban sesuatu. Maka kaum itu berkata kepada lelaki yang pertama: Sembelihlah kurban! Jawab lelaki tersebut: Aku tidak punya sesuatu untuk dikorbankan. Maka kata kaum tersebut: Berkurbanlah walau hanya dengan seekor lalat! Maka lelaki itu melakukannya dan ia bisa lewat dengan selamat, tetapi ia masuk naar. Maka hal yang sama terjadi pada lelaki yang kedua, saat diminta berkurban ia menjawab: Aku tidak akan berkurban kepada sesuatu pun selain Allah ‘Azza wa Jalla, maka lelaki yang kedua ini dipenggal kepalanya oleh mereka dan ia masuk jannah. (HR Ahmad)
  12. Merasa sial karena sesuatu apapun: Kata nabi SAW: Barangsiapa yang tidak jadi melakukan sesuatu karena merasa sial, maka ia telah syirik. Maka para sahabat ra bertanya: Lalu bagaimana kafarat dari hal tersebut wahai Rasulullah? Maka jawab nabi SAW: Katakanlah : Allahumma la khaira illa khairaka wala thiyara illa thiyaraka wala ilaha ghairaka. (HR Ahmad)
  13. Syirik kecil yaitu riya’ (QS 18/110): Merasa senang saat orang lain melihat perbuatan baiknya dan menambahinya, dan merasa malas saat tak ada yang melihatnya dan menguranginya. Kata nabi SAW: Yang paling aku takutkan terjadi atas kalian adalah syirik kecil, maka kata para sahabat ra: Apakah itu syirik kecil wahai Rasulullah? Jawab nabi SAW: Riya’. (HR Ahmad dan Abu Daud)

DAMPAK SYIRIK

  1. Memadamkan cahaya fithrah yang bersih. Manusia dilahirkan berada dalam fithrah tauhid yang suci, maka orangtua, lingkungan dan hawa nafsunyalah yang memadamkan fithrah tersebut dari tauhid yang lurus (QS 30/30).
  2. Mematikan kesucian jiwa. Jiwa yang bertauhid takkan tenggelam dalam lumpur hawa nafsu, karena hawa nafsu bersifat menurunkan jiwa manusia kebumi sementara ruh mengangkat ke langit dan melihat ke alam malakut. Maka jiwa yang melakukan syirik akan jatuh ke jurang kerendahan dan kehinaan (QS 22/31).
  3. Menghilangkan sifat ‘izzah (kemuliaan). Karena membuat jiwa menjadi tunduk kepada sesuatu selain Allah SWT yang rendah dan hina. Kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang beriman (QS 63/8). Seorang yang berbuat syirik takkan pernah memiliki kemuliaan dan takkan pernah merasakannya karena ia telah bersandar kepada sesuatu yang rendah dan hina (QS 22/73).
  4. Menggugurkan semua amal baik (QS 39/65). Dosa yang paling besar dan paling dahsyat bahayanya adalah syirik, karena syirik langsung menyentuh nilai-nilai tauhid yang paling mendasar dan aspek ketuhanan yang paling penting dalam agama Islam, yaitu pengakuan syahadah akan ke-Maha Esa-an Allah SWT dari segala sekutu dan tandingan.
  5. Kekal dan abadi di naar (QS 4/116-121). Maka sebagai hukumannya pun paling berat yaitu kekal di naar, dan tidak mendapatkan kesempatan pengampunan sama sekali dari Allah SWT, padahal Ia adalah yang Maha Penyayang (karena pelanggaran ini adalah kesalahan yang memang tidak dapat dan tidak boleh dimaafkan).

Allaahumma innaa na’uudzu bika min an nusyrika bika syai’an na’lamuh wa nas taghfiruka limaa laa na’lamuh…

Petikan http://www.al-ikhwan.net

SYIRIK KECIL IALAH RIAK

SALAH satu penyakit batin atau jiwa yang paling parah kepada seorang Muslim ialah riak. Hal ini berasaskan sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

“Sesungguhnya apa yang paling aku takuti menimpa umatku ialah riak dan keinginan nafsu yang tersembunyi di mana ia lebih tersembunyi daripada seekor semut yang hitam diletakkan di atas batu yang hitam pekat pada malam yang gelita.” (Hadis Riwayat Ibn Majah dan al-Hakim)

Demikianlah betapa sulitnya untuk mengawal diri daripada penyakit ini kerana ia tersembunyi dan sukar dikesan. Justeru, ulama Islam sangat memberi perhatian kepada kesan buruk penyakit riak kepada umat Islam.

Riak berasal daripada perkataan Arab, Ru’yah yang bermaksud lihat. Orang yang riak ialah orang yang memperlihatkan amalannya kerana ingin mendapat pujian manusia. Riak boleh berlaku dalam pelbagai bentuk iaitu melalui fizikal, pakaian, perkataan, amalan, ramai kawan dan pengunjung.

Rasulullah SAW pernah ditanya:

“Bagaimana untuk mendapat kejayaan? Jawab Baginda SAW: Seorang hamba yang beramal taat kepada Allah jangan beramal kerana mengharapkan sesuatu daripada manusia.” (Hadis riwayat al-Baihaqi)

Sabda Rasulullah SAW lagi yang maksudnya:

“Perkara yang paling aku takuti menimpa kamu ialah syirik kecil. Sahabat bertanya: Apa dia syirik kecil itu? Sabda Baginda: Allah berkata pada hari kiamat nanti ketika Dia memberi balasan amalan kepada hamba-Nya: Pergilah kamu kepada orang yang kamu tunjukkan amalan kamu di dunia dulu, mintalah balasan amalan kamu daripada mereka.” (Hadis riwayat Ahmad dan al-Baihaqi)

Diriwayatkan Saidina Umar pernah ternampak seorang lelaki berjalan membongkokkan badannya, lantas beliau berkata: Hai si bongkok, luruskan badanmu. Khusyuk atau rendah diri itu bukan pada fizikal. Sesungguhnya khusyuk itu di dalam hati.”

Abu Umamah al-Bahili ternampak seorang lelaki dalam masjid sedang menangis dalam sujudnya, lalu dia berkata: “Jika kamu lakukan ini di rumah kamu (adalah lebih baik).”

Saidina Ali berkata: “Tanda orang yang riak itu tiga, dia malas jika berada seorang diri, ia rajin apabila di tengah orang ramai dan ia menambah amalan jika dipuji dan mengurangkannya jika sebaliknya.

Keburukan riak tidak terhitung. Apabila seseorang rasa berbeza dalam dirinya jika ia beribadat dilihat orang dan tidak dilihat, itu adalah satu bentuk riak. Cara merawatnya ialah menjauhi terus daripada punca riak iaitu suka kepada kedudukan dan kemegahan.

Seburuk-buruk riak ialah seorang yang beribadat kepada Allah kerana hamba-Nya, bukan mengharapkan keredaan Allah. Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya:

“Orang yang riak, nanti dipanggil pada hari kiamat di hadapan semua makhluk: Hai penjahat, Hai periak, Hai penipu, amalan kamu sesat, balasannya terhapus, pergilah kamu, mintalah balasannya daripada orang yang kamu beramal kerananya.” (Hadis riwayat ibn Abi al-Dunya)

Berdasarkan keterangan di atas, sebagai seorang Muslim kita mestilah menjaga niat dalam setiap kerja amal dilakukan. Jangan sekali-kali terselit rasa kerana selain Allah, nanti di akhirat balasannya tidak akan diberi oleh Allah.

Sedarlah penyakit ini lebih parah daripada segala penyakit fizikal dunia, kerana ia akan merosakkan segala pahala yang diperlukan untuk kebahagiaan hidup kekal abadi di akhirat.

About these ads